Rumah Dita Oeripto, pelaku bom bunuh diri di gereja di Surabaya

 

Beritainternusa.com, Jakarta – Polisi menemukan panah saat menggeledah rumah Dita Oepriarto, pelaku teror bom di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur. Selain itu panah juga ditemukan di rumah terduga teroris di Pekalongan.

Sebetulnya apa fungsi panah-panah tersebut?

Pengamat terorisme dari UIN Kalijaga Yogyakarta Noorhaidi Hasan menilai, teroris pada dasarnya akan mengerahkan seluruh sumber daya yang ada untuk melancarkan aksinya. Tak terkecuali dengan panah tersebut.

“Teroris itu ingin kembali ke zaman dulu ke zaman awal ketika Islam berjaya menaklukkan banyak wilayah. Bisa saja begitu. Saat itu panah sebagai senjata kunci kan dalam perang-perang. Mungkin ada romantisasi ke arah itu lagi,” kata Noorhaidi saat dihubungi, Kamis (17/5/2018).

“Bisa juga dibaca mereka semakin kehilangan akses membuat senjata yang lebih canggih lagi karena dikurung Densus atau intelijen untuk mendapatkan bahan membuat bom itu makin susah sekarang, yang tersisa ya menggunakan kembali senjata tradisonal,” tuturnya.

Pengamat terorisme yang juga Komandan Densus 99 GP Ansor Nuruzzaman memiliki pandangan yang sama. Menurutnya, teroris bisa menggunakan segala alat untuk membunuh orang.

“Memanah itu bukan sesuatu yang asing. Dianggap sebagai ajaran agama juga, hal yang wajar. Jadi mereka
menggunakan segala alat untuk membunuh orang,” ujar Nuruzzaman.

Nuruzzaman mencontohkan beberapa aksi teror juga pernah digencarkan dengan menggunakan senjata panah.

“Kasus pembakaran Polres dulu di Sumatera Barat juga dilakukan dengan panah. Para pelaku penyerangan melakukan dengan panah. Beberapa polisi juga mengalami serangan panah,” jelas Nuruzzaman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here