Potret sekeluarga pengebom gereja di Surabaya

 

Beritainternusa.com, Jakarta – Pasutri Dita Oepriarto dan Puji Kuswati menjadi pelaku bom gereja di Surabaya. Perempuan dan anak dilibatkan dalam aksi terorisme merupakan modus baru yang dilakukan untuk mengelabui aparat.

“Ini model baru tapi sudah saya duga sebelumnya karena mereka mudah mengelabui petugas dan intelijen,” kata pengamat terorisme, Stanislaus Riyanta, ketika dihubungi pada Minggu 13 Mei 2018.

Stanislaus mengatakan pada Desember 2016 lalu, percobaan teror dengan bom panci pernah dilakukan seorang wanita dengan target Istana Negara, namun berhasil digagalkan. Meski begitu, Stanislaus menyoroti pengeboman dengan melibatkan satu keluarga ini dikhawatirkan menjadi modus yang bakal ditiru para teroris lainnya.

“Sebetulnya pernah ditangkap di istana, bom panci tapi tidak berhasil. Ini satu keluarga bapak ibu dan beberapa anaknya baru ini yang berhasil (melibatkan perempuan dan anak), yang jadi masalah kalau ini tidak ditangani akan jadi model berikutnya,” ujarnya.

Selain itu, Stanislaus menyoroti aksi pengeboman Dita Oepriarto dan keluarganya ini. Hal ini, menurutnya, menunjukkan bukti kuatnya doktrin yang tertanam di keluarga Dita yang diketahui baru saja pulang dari Suriah.

“Justru kalau dilakukan bersama-sama menunjukkan ideologi radikal itu sudah tertancap kuat di keluarganya. Mereka di Suriah itu dapat doktrin kuat, niat melakukan aksi sudah cukup kuat. ISIS di Suriah dan Timur Tengah terdesak, di sini mereka tidak punya siapa-siapa mereka melakukan aksi itu dengan harapan mendapatkan hal yang baik. Ini yang berbahaya mengorbankan nyawanya demi tujuan yang dia yakini mulia,” ucapnya.

Stanislaus menegaskan kasus pengeboman di gereja Surabaya ini tidak ada kaitan dengan politik karena murni aksi teror. Apalagi para pelaku ini berkaitan dengan jaringan jamaah ansharut daulah (JAD) yang berafiliasi dengan ISIS.

“Tidak ada hubungan dengan politik, bedakan antara aksi politik dan teror ideologi karena sampai mengorbankan diri. Teror ini berkaitan dengan organisasi radikal, berpaham radikal, aksi ini pelakunya JAD. Ada arus balik (WNI) dari ISIS dan Suriah dan soal teori balon karena ISIS ditekan di Timur Tengah dan Suriah maka dia bergerak ke daerah lainnya,” jelasnya.

Dia mengingatkan para WNI yang baru saja kembali dari Suriah wajib diwaspadai. Sebab, di antara mereka ada kombatan yang berpengalaman dan menguasai teknik perang. Meski begitu, dirinya tetap optimistis Polri bisa menangani sel-sel teroris tersebut.

“Kombatan itu berbahaya karena menguasai intelijen, teknik perang tapi Polri punya datanya semuanya. Saya selaku pengamat yakin Polri bisa mengatasi ini, Pak Tito tadi menyampaikan jaringan JAD ini kecil dan BIN akan segera melakukan tindakan untuk menumpas mereka. Sel ini tidak akan berkembang, tidak akan meluas,” urainya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here