Jogja.beritainternusa.com, Yogyakarta – Pemerintah Kota Yogyakarta diminta untuk lebih terbuka dalam menyampaikan informasi publik. Tidak hanya secara lisan, namun juga didukung dengan penggunaan website dan sosial media yang kekinian dan sesuai dengan segmen generasi milenial.

Konsultan Kreatif, Sumbo Tinarbuko menjelaksan bahwa Pemkot Yogyakarta seharusnya menyampaikan informasi publik dengan sebaik-baiknya tanpa ada yang ditutup-tutupi.

“Tapi juga harus ada pembedaan, yang mana yang dipublikan dan mana yang menjadi kepentingan lembaga itu sendiri. Karena rahasia negara tidak boleh dipublikasikan,” ungkapnya, ditemui seusai Focus Group Discussion, Keterbukaan Informasi dan Pemanfaatan Website di Kompleks Balaikota Yogyakarta, Senin (30/1/2018).

Sumbo juga menuturkan bahwa mereka tidak boleh kaku dalam menyampaikan informasi tersebut.

“Kalau tidak biasa, harus dibiasakan. Ini tuntutan zaman. Pemerintah tidak boleh duduk di zona nyaman saja karena bukan birokrat tapi pelayan publik,” tegasnya.

Sumbo mencontohkan, dalam hal perizinan misalkan, informasi tersebut harus disampaikan seringkas mungkin agar masyarakat yang membutuhkan dapat mengaksesnya dengan cepat.

“Informasi kalau disampaikan dengan komunikasi cinta, menggunakan bahasa kalbu, ibarat komunikator yang sedang jatuh cinta, akan membuat lawan bicara dengan mudah memahami maksudnya,” ungkap Sumbo.

Selain itu, lanjutnya, Pemkot harus melayani generasi milenial. Media yang paling banyak diikuti milenial, harus dijadikan media komunikasi Pemkot.

“Presiden dan Menteri sudah melakukannya. Paling banyak di Instagram lalu biasanya dishare ke Facebook dan Twitter. Saya melihat Pemkot belum aware dengan Vlog, tapi lebih ke Instagram, Facebook, dan Twitter,” bebernya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here