Beritainternusa.com, Jakarta – Aksi Bela Islam 212 pada 2016 lalu beragendakan menuntut eks Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dipenjara lantaran dituduh menistakan agama Islam. Meski Ahok telah dipenjara dan aksi itu sudah lewat lebih dari setahun, Ketum PBNU Said Aqil Siroj kembali mengungkitnya dan melemparkan kritik.

“Saya melewati masa krisis yang sangat luar biasa ketika 212. Betul-betul ujian yang besar. Alhamdulillah saya tidak bergeser sedikit pun,” ujar Said di gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (10/4/2018).

Menurut Said, aksi 212 merupakan aksi yang memiliki kepentingan politik. Sebagai Ketua PBNU, ia enggan memihak kepentingan-kepentingan politik mana pun.

Pada saat itu, Said Aqil mengaku menerima ancaman dan sekaligus rayuan untuk bergabung dalam aksi tersebut. Salah satunya, katanya, Said diminta ikut melaksanakan salat Jumat di Monas.

Said memandang kalau aksi 212, di mana para peserta dari daerah banyak yang menginap di Masjid Istiqlal Jakarta Pusat, cukup ‘mengganggu’ kebersihan tempat ibadah itu. Said menyebut banyak dari mereka yang ngompol di masjid, meneteskan liur saat tidur, dan sebagainya.

“Walaupun diancam atau dirayu, tidak sedikit pun kita bergeser menolak Jumatan di Monas. Satu, karena salat Jumat di Monas bukan salat, tapi politik. Kedua, saya tahu siapa di belakangnya yang biayain,” kata Said.

Kritik Said dibalas Dewan Penasihat Persaudaraan Alumni (PA) 212 Eggi Sudjana. Bagi Egi, salat tetaplah salat, di manapun dilaksanakan.

Salat menurut Egi tak hanya bisa dilakukan di Istiqlal. Tiap sudut bumi, katanya, bisa dipakai untuk salat, asal bersih. Kritik Said soal salat di Monas dianggap Egi kurang tepat.

“Soal salat, saya memang tidak ahli fiqih, jadi saya tidak mau menanggapi itu, karena bukan keahlian saya. Tapi pengetahuan kecil saya, yang namanya masjid itu namanya tempat sujud, nah seluruh bumi Allah itu bisa tempat sujud, kecuali di tempat yang diharamkan, seperti di WC. Jadi mau di lapangan atau di mana-mana, sah-sah saja,” kata Eggi kepada wartawan, Selasa (10/4/2018).

Ketua Umum DPP PA 212, Slamet Maarif, turut merespons ucapan Said. Bagi Slamet, Said tak mengerti perjuangan umat Islam. Dia menyarankan agar sang kiai ikut ambil bagian di aksi-aksi bela Islam.

“Saran saya, Pak Kiai yang terhormat sekali-kali ikut dalam Aksi Bela Islam 212 supaya paham dan mengerti bagaimana perjuangan umat,” ujar Slamet.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here