Jogja.beritainternusa.com, Gunungkidul – Ribuan warga dari tiga padukuhan dari dua desa di Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul memadati makam Ki Ageng Wanakusuma, Dusun Wonotoro, Desa Jatiayu, Gunungkidul, Senin (12/3/2018).

Mereka melaksanakan upacara Wilujengan Madilakiran Ki Ageng Wonokusumo. Upacara ini diselenggarakan untuk mengenang jasa dari Ki Ageng Wonokusumo yang dikenal sebagai pendiri daerah Wonotoro dan desa lain yang berkembang setelahnya.

Ribuan warga yang berasal dari Padukuhan Wonontoro dari Desa Jatiayu, Padukuhan Warung dan Padukuhan Banjardowo dari Desa Gedangrejo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul berbondong-bondong datang ke lokasi upacara.

Mereka datang sambil membawa ubarampe berupa nasi gurih dan ingkung ayam. Makanan itu sebagai wujud sedekah dari warga. Warga membawanya ke Pendopo kompleks makam Ki Ageng Wanakusuma. Di sana makanan itu didoakan oleh para sesepuh desa dan tokoh agama lalu dibagi-bagikan kepada seluruh warga yang hadir.

Ketua Penyelenggara Upacara Wilujengan Madilakiran, Purwanto, mengatakan, upacara adat itu sendiri diperingati setiap setahun sekali dalam kalender Jawa setiap tanggal 23 atau 25 Jumadil akhir. Tujuannya, untuk menghormati salah satu tokoh masyarakat kala itu, yakni, Ki Ageng Wonokusumo, yang berjasa menyebarkan agama Islam dan juga mensejahterakan warga desa Jatiayu dan sekitarnya.

“Ki Ageng Wonokusumo ini memiliki jasa yang besar untuk warga Desa kami. Beliau adalah tokoh penyebar agama islam, dan juga berjasa dalam menyejahterakan masyarakat. Untuk itu upacara ini terus digelar setiap tahun, ” ujar Purwanto, Senin (12/3/2018).

Purwanto mengatakan, banyak masyarakat yang datang untuk mengikuti upacara tersebut. Tak hanya dari Gunungkidul saja, tetapi juga warga dari berbagai daerah yang datang khusus untuk berdoa.

Hal ini dinilainya menjadi potensi wisata religi di Kabupaten Gunungkidul. Oleh karen itu, dia berharap agar situs budaya tersebut dapat terus dipertahankan dan dilestarikan.

“Masyarakat dari seluruh penjuru Indonesia yang nadzarnya tercapai, datang ke sini membawa ayam itu dan disembelih lalu nanti di bagikan ke masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Gunungkidul, Agus Kamtono menyambut terselenggaranya upacara ini. Menurutnya, upacara ini menjadi satu dari beberapa upaya dalam pelestarian adat istiadat dan warisan leluhur.

“Gaya hidup dan perilaku masyarakat terus mengalami pergeseran, dari tradisional ke modern. Sebagian budaya pun ditinggalkan. Namun adanya upacara ini dapat menjadi semangat baru untuk melestarikan adat istiadat budaya dan warisan leluhur,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya sendiri, tradisi upacara madilakiran ini dilaksanakan pada bulan jumadil akhir menurut penanggalan jawa. Prosesi upacara madilakiran ini dimulai sejak tanggal 1 hingga tanggal 25 Jumadil Akhir.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here