Suasana persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta

 

Beritainternusa.com, Jakarta – Muhammad Nur alias Ahmad mengaku pernah menerima USD 2 juta dari perusahaan penukaran uang (money changer) PT Inti Valuta. Ahmad merupakan anak buah dari Irvanto Hendra Pambudi Cahyo, keponakan Setya Novanto, di PT Murakabi Sejahtera.

Ahmad mengaku menerima USD 2 juta itu dalam 3 tahap di kantor PT Murakabi Sejahtera yang berada di Menara Imperium, Kuningan, Jakarta Selatan. Saat itu, Ahmad mengaku dihubungi Irvanto untuk menerima pengiriman barang di kantor.

“Saya ditelepon (Irvanto) suruh stand by. Ada orang money changer telepon, katanya mau antara kirim barang ke Menara Imperium,” ucap Ahmad ketika bersaksi dalam sidang lanjutan perkara korupsi proyek e-KTP dengan terdakwa Novanto di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (12/3/2018).

Penerimaan pertama, menurut Ahmad, terjadi pada Desember 2011. Saat itu, Ahmad mengaku menerima uang–yang belakangan diketahuinya sebesar USD 400 ribu–di dalam amplop warna cokelat.

“Lalu uang itu ke mana?” tanya jaksa.

“Saya kirim uang ke rumah Pak Irvanto di Jalan Rambutan, rumah nenek Irvanto,” ucap Ahmad.

Kemudian penerimaan kedua, lanjut Ahmad, dilakukan di rumahnya, bukan di kantor. Alasannya, menurut Ahmad, salah satu pegawai PT Murakabi Sejahtera yang bernama Tri Anugerah Ipung, tidak ingin urusan pribadi dibawa ke kantor.

“(Karena) Saya bilang ini urusan pribadi, uang itu tidak ada ikatan Murakabi,” ujar Ahmad.

Setelah penerimaan ketiga, Ahmad baru tahu uang itu diperuntukkan untuk Senayan. Ahmad mengaku diberitahu langsung oleh Irvanto.

“Irvanto pernah ngomong untuk ke Senayan?” tanya jaksa.

“Itu yang ketiga,” jawab Ahmad.

Namun Ahmad mengaku tidak tahu berapa uang yang diterimanya tersebut karena langsung diserahkan ke Irvanto. Menurut Ahmad, seluruh uang dan barang bukti selalu diberikan ke Irvanto.

“Irvanto sampaikan apa?” tanya jaksa.

“Saya lagi ada project. Nanti project kelar, saya mau dikasih motor,” ucap Ahmad.

Dalam perkara ini, Novanto disebut menerima total uang USD 7,3 juta terkait korupsi proyek e-KTP. Duit itu diterima Novanto melalui tangan Made Oka Masagung dan Irvanto Hendra Pambudi Cahyo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here