Jogja.beritainternusa.com, Yogyakarta – Masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diminta waspada dengan paham yang memecah belah persatuan, yang sifatnya SARA dan radikalisme. Kaum muda Nahdlatul Ulama pun mulai masuk ke pondok pesantren dan juga kampus-kampus untuk menyuarakan pentingnya toleransi di Indonesia.

Gerakan kaum muda NU yang tergabung dalam Pendidikan dan Pelatihan khusus Ahlusunnah wal jamaah 1926 (Densus 26) ini meminta semua warga tetap waspada dan tidak terpancing dengan provokasi untuk memecah belah umat dan memecah negara. Bagaimanapun, toleransi dan saling menghormati harus dijaga demi keutuhan NKRI.

“Paham radikal harus ditangkal, karena ratusan ponpes yang ada di DIY terbuka dan memberikan ruang bagi paham radikal. Maka kami datang, diskusi bersama pentingnya hormat menghormati dan menjaga toleransi di Indonesia,” ucap Koordinator Nasional Densus 26 Umarudin Masdar kepada wartawan, Kamis (22/2/2018).

Selain ponpes, kampus juga menjadi ruang untuk mendiskusikan keberagaman di Kndonesia. Jangan sampai kampus justru terbuka dengan paham radikal yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.

“Kalau paham-paham radikal ini dibiarkan, hal ini  merusak proses konsolidasi demokrasi dan juga merusak proses pendewasaan keberagamaan umat,” ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here