Novel Baswedan

 

Beritainternusa.com, Jakarta – Kasus penyiraman air keras berjenis asam sulfat terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan masih misterius. Sepuluh bulan berlalu, pelakunya masih gentayangan.

Satu subuh di April 2017, wajah Novel basah oleh cairan yang kemudian diketahui sebagai air keras. Kejadiannya di Jalan Deposito dekat Masjid Al-Ihsan di kompleks rumah Novel, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Tak lama, tim KPK tiba di lokasi kejadian. Pimpinan KPK juga langsung melaporkan kasus penyiraman ke Mabes Polri. Meski begitu KPK memastikan kinerja KPK tak terganggu dengan musibah yang menimpa Novel.

Kapolres Jakarta Utara kala itu, Kombes Dwiyono, menyebut pelaku berjumlah 2 orang dan menaiki kendaraan bermotor berjenis matic. Polisi kemudian mengambil sampel air keras saat melakukan olah TKP dan memeriksa 14 orang saksi.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian langsung memerintahkan Polda Metro Jaya membentuk tim khusus untuk mengusut kasus ini. Kapolda Metro Jaya kala itu, Irjen Iriawan, menyebut ada ‘aktor’ intelektual di balik penyiraman Novel.

Menurut Polisi, ada orang berperawakan besar yang kerap bolak-balik rumah Novel beberapa hari sebelum kejadian. CCTV dan foto terkait teror turut diperiksa.

Ola TKP dilakukan lebih dari 4 kali, namun sidik jari pelaku tak berhasil diketahui. Pegawai KPK minta Presiden bentuk Tim Pencari Fakta (TPF).

Pada 21 April 2017, Polisi memeriksa 2 orang mencurigakan yang setelah diselidiki ternyata bukan merupakan pelaku penyiraman.

Tim khusus bentukan Polda Metro Jaya kemudian bertukar informasi dengan KPK. Belum bisa disimpulkan apakah teror tersebut berhubungan dengan perkara yang tengah ditangani Novel di KPK atau tidak.

Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto kemudian menyatakan Polri telah mengantongi identitas pelaku penyiraman. Namun, pelaku belum bisa ditangkap.

“(Pelaku) tidak hanya dikantongi, tapi sudah diketahui,” kata Setyo kala itu.

Dalam rangka menggali keterangan Novel, Polisi terbang ke Singapura, pada Mei 2017. Hasilnya, Polisi mengamankan AL yang diduga sebagai pelaku penyiraman pada 9 Mei 2017 atas petunjuk foto dari Novel.

Namun, ternyata AL bukanlah pelakunya. Dia dilepaskan Polisi sekitar 3 hari kemudian setelah diamankan.

Setelah melepaskan AL, Polisi kemudian mengamankan Mico yang merupakan keponakan Muhtar Ependy, salah seorang tersangka suap di KPK. Namun lagi-lagi penyelidikan Polisi buntu. Mico kemudian dilepaskan karena punya alibi berada di Bandung saat penyiraman terjadi.

Kapolri kemudian menyebut terdakwa e-KTP Miryam Haryani berpotensi terlibat dalam kasus penyiraman. “Termasuk pencarian penjualan barang-barang air keras dan motif orang yang pernah sakit hati (terhadap Novel),” ucap Tito, Selasa (23/5/2017).

Awal Juni 2017, Novel kepada media AS TIME menyebut adanya kemungkinan keterlibatan jenderal di balik teror terhadapnya. Terkait hal ini Poliri lalu mengirim tim ke Singapura.

“Sebenarnya saya sudah menerima informasi bahwa seorang jenderal polisi–seorang pejabat polisi tingkat atas–telah terlibat. Awalnya, saya mengatakan informasi itu bisa saja salah. Namun kini, ketika telah 2 bulan berlalu dan kasus tersebut belum juga terpecahkan, saya katakan, perasaan terhadap informasi itu bisa saja benar,” ucap Novel, Rabu (14/6).

Terkait pengakuan Novel, Polisi meminta Novel melaporkannya. Polri mengerahkan Densus hingga Inafis untuk mengungkap kasus Novel. Polri juga mengirim tim ke Singapura untuk mengkonfirmasi pernyataan soal jenderal.

“Kalau dia menyebut nama, sebaiknya hati-hati, karena kalau menyebut nama dan tidak ternukti ada implikasi hukum,” ujar Kadiv Humas Polri, Irjen Setyo Wasisto, Jumat (16/6/2017).

Di sela pemulihan kesehatannya di Singapura, Novel juga turut berkomentar mengenai hak angket DPR terhadap KPK. Novel berharap agar KPK tetap mendapat dukungan.

“Novel menyampaikan harapannya agar orang-orang yang memiliki nurani dan semangat antikorupsi di DPR memberikan dukungan terhadap KPK dengan tetap menghormati proses hukum yang sedang berjalan baik itu korupsi pengadaan e-KTP atau pun kasus lainnya,” kata Novel melalui Jubir KPK Febri Diansyah, Jumat (5/5).

Di kesempatan lain di Singapura, Novel juga berharap rekan-rekan penyidik KPK tak gentar dan semangatnya luntur atas apa yang terjadi terhadapnya.

“Yang jelas saya ingin menyampaikan semangat pada rekan-rekan semuanya bahwa saya tentunya dengan kejadian ini tidak akan, berharap tidak akan mengendur atau berkurang semangat,” ujar Novel dalam video yang diunggah PP Pemuda Muhammadiyah di laman resmi Facebook-nya, Selasa (25/7/2017).

Menurut Novel, orang-orang yang ingin pemberantasan korupsi terhenti hanya akan terus berharap.

“Begitu juga dengan harapan orang-orang yang telah berupaya untuk menyerang saya, untuk memendam, untuk menghentikan langkah-langkah pemberantasan korupsi, saya ingin menunjukkan bahwa harapan orang-orang itu akan sia-sia, tidak ada gunanya,” tutur Novel.

“Saya tegaskan bahwa itu tidak akan bisa sebagaimana yang mereka harapkan,” tegasnya.

Sumber            : Dtk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here