Komplotan curanmor yang ditangkap aparat Polres Jakbar

 

Beritainternusa.com, Jakarta – Polres Metro Jakarta Barat menangkap komplotan pencuri kendaraan motor (curanmor) yang sudah lama menjadi target operasi. Komplotan ini selalu membawa senjata api untuk melukai korbannya.

“Mereka itu seperti kasus Italia (korban yang ditembak oleh pelaku curanmor di Tangerang). Jadi kemarin (19/2) siang, kita menangkap dua pelaku H (Hendri) dan T (Tamrin) di kawasan Palmerah setelah mereka beroperasi,” ucap Kanit Krimum Polres Metro Jakarta Barat, AKP Rulian Syauri, dalam keterangannya, Selasa (20/2/2018).

Polisi mendapatkan senjata api rakitan beserta peluru kaliber 38 mm, serta kunci T. Mereka sering menodong pistol kepada korban jika korban teriak.

“Mereka juga lupa sudah berapa kali melakukan operasi. Kemungkinan sampai puluhan,” ucap Rulian.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat AKBP Edi Suranta Sitepu mengatakan polisi mengembangkan kasus dengan mencari penadah sepeda motor curiannya. Dua penadah barang curian bernama Zaenal dan Apipudin ditangkap di Banten pada dini hari tadi.

“Penadah itu ditangkap di Banten. Mereka sering menadah motor curian dari daerah Jakarta,” kata Edi Suranta.

Dalam penangkapan ini, pelaku Hendri hendak menembak petugas saat akan ditangkap. Polisi akhirnya menembak Hendri hingga tewas.

Barang bukti dari pelaku seperti senpi, STNK, kunci Y, dan STNK

“Ketika dilakukan pengembangan tersangka atas nama Hendri berusaha melawan dan berupaya menembak anggota dengan senpi rakitan. Sehingga tersangka tertembak dan meninggal dunia di daerah Taman Serengseng, Kembangan, Jakarta Barat,” ucap Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Hengki Haryadi dalam kesempatan terpisah.

“Dua oramg ini hasil pemeriksaan sudah banyak melakukan aksi di Jakbar dan kalau kepepet dia tidak segan-segan menembak korbannya. Hari ini, kami tangkap dan sehari minimal 10 kendaraan bermotor,” kata Hengki di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (20/2/2018).

Diketahui, pada awalnya polisi menangkap dua orang pelaku Hendri dan Tamrin di kawasan Palmerah usai beraksi pada Senin (19/2) kemarin. Penangkapan kedua pelaku dapat dilakukan setelah polisi memetakan daerah rawan curanmor.

Hengki menyebut di wilayah hukum Polres Jakbar ada lebih dari 100 titik rawan curanmor. Penangkapan dapat dilakukan petugas dengan melakukan operasi tertutup.

“Kami petakan di Jakbar titiknya curanmor Palmerah, Kalideres, Cengkareng. Ada 125 titik rawan curanmor. Hari ini terbukti anggota Reskrim Polres Jakbar saat melaksanakan tugas patroli tertutup berhasil menangkap tangan pelaku curanmor dengan senjata api ada 2 orang,” ungkapnya.

Pelaku bernama Hendri ditembak hingga tewas karena melawan dan berusaha melarikan diri. Polisi menyita senjata api yang digunakan pelaku untuk beraksi.

Setelah dilakukan pengembangan, polisi menemukan sebanyak 7 unit sepeda motor hasil curian. Namun, polisi juga menemukan ada banyak STNK dari pelaku.

Tak seperti komplotan curanmor lainnya, komplotan ini menjual motor hasil curian ke daerah Tangerang, Banten. Dalam pengembangan kasus, dua pelaku lain ditangkap yakni Zaenal dan Apipudin yang berperan sebagai penadah motor curian.

“Ini ada perubahan pola yang katanya dijual di Karawang sekarang di Tangerang,” tutur Hengki.

Dia mengatakan STNK yang ditemukan tersebut asli. Polisi akan menyerahkan STNK tersebut kepada para pemiliknya.

Berdasarkan KTP yang dipunya, para pelaku diketahui berasal dari daerah Lampung. Komplotan ini juga mengaku mendapatkan senjata api dari Lampung. Para pelaku ini kerap bertukar peran dalam menjalan kan aksinya.

“Pelaku dari keterangan dari KTP dari Lampung. Sementara pengakuan tersangka (senpi) dari Lampung. Mereka ini komplotan, jaringan terkadang mereka ganti dari pilot dan eksekutor. Jadi pilot yang jalankan kendaraan,” beber Hengki.

Hengki mengatakan curanmor jadi kasus terbanyak kedua yang ada di wilayah hukum Polres Jakbar setelah kasus narkoba. Dia mengatakan waktu rawan kasus curanmor ini ada di rentang pukul 00.00-06.00 pagi. Hengki mengatakan polisi tak akan segan menindak tegas para pelaku kejahatan yang mengancam keselamatan warga maupun petugas.

“Kami tidak akan main-main, pelaku melawan akan kami tindak tegas. Kalau memang melawan kami berikan tindak tegas pada pelaku,” tegasnya.

Atas perbuatannya, ketiga pelaku dijerat pasal 365 KUHPidana dan UU Darurat nomor 12/1951. Mereka terancam hukuman penjara maksimal 20 tahun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here