Jogja.beritainternusa.com, Gunungkidul –Gunungkidul tidak hanya terkenal wisatanya yang indah, tetapi juga memiliki banyak potensi lain sumber daya alam yang juga tak besar.

Seperti kopi yang dahulu ada kemudian meredup, kini mulai dikembangkan lagi. Ribuan pohon kopi dahulu tumbuh subur di sejumlah wilayah di Gunungkidul pada tahun 1990-an. Satu di antaranya adalah di Desa Kampung, Kecamatan Ngawen, yang hampir setiap sudutnya pasti terdapat tanaman kopi yang tumbuh.

Namun seiring berjalannya waktu, tanaman kopi itu mulai berkurang. Warga merasakan kopi tidak memberikan pendapatan yang cukup.Mereka pun menebangi tanaman kopi tersebut.

“Pernah terdapat ribuan pohon kopi yang cukup produktif. Namun karena kurangnya pengetahuan mengenai budidaya kopi dan penjualannya masyarakat mereka memilih untuk memotongnya karena dianggap tanaman kurang dari segi ekonomi,” ujar Kepala Desa Kampung, Suparna, Kamis (15/2/2018).

Kondisi tersebut berubah setelah seorang warga Korea, Ki Myung Kim, datang ke kawasan Gunung Gambar di Desa Kampung, Kecamatan Ngawen, Januari 2018 lalu, dengan membawa 3.000 bibit tanaman kopi untuk kembali ditanam.

“Kami pun bersama-sama membuat lubang untuk tanaman kopi tersebut. Bantuan itu memberikan harapan untuk kami dapat menghidupkan kopi lagi di sini,” ujarnya.

Tak hanya bantuan bibit saja, pendampingan pun diberikan.Masyarakat diajarkan cara menanam kopi, merawat tanaman, pemanenan, hingga paska panen.

Mereka juga diajarkan cara mengolah produk kopi agar bernilai ekonomi yang tinggi. Masyarakat juga diajari cara bertani secara organik. Produk Kopi yang dikembangkan pun dipersiapkan untuk kopi dengan kualitas premium yakni kopi luwak.

“Kami juga diberikan sepuluh luwak yang dipersiapkan untuk menghasilkan kopi luwak, tetapi memang ada dua ekor yang lepas,” ujarnya.

Pengembangan kopi luwak ini diharapkan bisa meningkatkan ekonomi masyarakat.Sebab, harga kopi luwak cukup tinggi di pasaran.

“Nantinya dengan menghasilkan kopi, kita kembangkan bersama wisata yang saat ini dikembangkan di Gunung Gambar,” tutur Suparna.

Pihaknya pun berharap pemerintah dapat turut mendampingi dan memberikan bantuan dalam upaya pengembangan kopi di Gunungkidul.

“Rencananya tahun 2018 ini juga terdapat bantuan tambahan dari pemerintah kabupaten Gunungkidul sebanyak 6000 batang bibit,” ujarnya.

Sementara itu seorang petani kopi di Desa Kampung, Pardi, menyambut baik dengan dikembangkannya kembali tanaman kopi ini di Gunungkidul.

Menurutnya, tanaman kopi jika dirawat secara sungguh-sungguh, maka dapat memberikan hasil kepada masyarakat. Ribuan bibit tanaman Kopi yang ditanam ini diharapkan dapat tumbuh besar dan memberikan hasil kepada masyarakat.

Hasilnya sendiri dapat dinikmati masyarakat dalam jangka waktu 2 sampai 3 tahun kedepan.  Semoga dapat kita panen dua tahun lagi. Selama itu kita akan rawat tanaman kopi ini layaknya keluarga sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here