Fredrich Yunadi menjalani persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta

 

Beritainternusa.com, Jakarta – Jaksa KPK menyebut dr Bimanesh Sutarjo meminta perawat membuang surat pengantar rawat inap dari IGD atas nama Setya Novanto. Surat pengantar untuk Novanto kemudian dibikin baru.

Awalnya, Bimanesh meminta dokter jaga di IGD RS Medika Permata Hijau, dr Michael Chia Cahaya untuk membuatkan surat pengantar tersebut. Namun Michael menolaknya karena pasien seharusnya diperiksa lebih dulu sebelum surat pengantar itu dibuat.

Pada akhirnya, Bimanesh tetap membuat surat pengantar itu. Padahal Bimanesh bukanlah dokter jaga di IGD.

Kemudian ketika Novanto tiba di rumah sakit pukul 18.45 WIB pada 16 November 2017, mantan Ketua DPR itu langsung dibawa ke kamar VIP 323. Padahal seharusnya Novanto diperiksa lebih dulu di IGD.

“Setelah Setya Novanto berada di kamar VIP 323, dr Bimanesh Sutarjo memerintahkan Indri, perawat, agar surat pengantar rawat inap dari IGD yang telah dibuatnya dibuang dan diganti baru,” ujar jaksa KPK ketika membacakan surat dakwaan Fredrich dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (8/2/2018).

Setelah itu Bimanesh membuatkan surat pengantar baru dari poli di bagian administrasi rawat inap. Padahal, menurut jaksa, sore itu bukanlah jadwal praktik Bimanesh.

Dalam kasus ini, Fredrich Yunadi selaku pengacara Novanto saat itu didakwa melakukan perbuatan merintangi proses penyidikan Novanto. Fredrich didakwa bersama-sama dr Bimanesh Sutarjo–yang dituntut dalam berkas terpisah–membuat rekayasa rekam medis Novanto.

Kejanggalan peristiwa kecelakaan mobil yang dialami Setya Novanto diungkap jaksa KPK dalam persidangan Fredrich Yunadi. Jaksa menyebut mantan pengacara Novanto itu meminta dibuatkan diagnosa kecelakaan mobil pada dokter sebelum Novanto mengalami kecelakaan.

“Pada sekitar pukul 17.30 WIB, terdakwa juga datang ke RS Medika Permata Hijau menemui dr Michael Chia Cahaya (dokter jaga IGD) di ruang IGD meminta dibuatkan surat pengantar rawat inap atas nama Setya Novanto dengan diagnosa kecelakaan mobil,” ujar jaksa KPK Fitroh Rohcahyanto ketika membacakan surat dakwaan Fredrich dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (8/2/2018).

Padahal, lanjut jaksa, saat itu Novanto sedang berada di Gedung DPR bersama ajudannya, Reza Pahlevi, dan seorang wartawan atas nama Muhammad Hilman Mattauch. Sedangkan kecelakaan yang dialami Novanto terjadi sekitar pukul 18.30 WIB pada tanggal 16 November 2017.

Namun permintaan Fredrich pada dr Michael itu tak berujung manis. Michael menolaknya dengan alasan harus ada pemeriksaan terlebih dulu pada pasien sebelum dikeluarkannya surat pengantar rawat inap dari IGD.

Tak habis akal, Fredrich menemui dokter lainnya yaitu dr Alia yang merupakan Plt Manajer Pelayanan Medik di RS Medika Permata Hijau. Dia meminta agar alasan masuknya Novanto ke ruang rawat inap yang semula dengan diagnosa penyakit hipertensi untuk diubah menjadi kecelakaan.

Kemudian, dr Bimanesh Sutarjo yang telah bersiasat dengan Fredrich sebelumnya tiba di rumah sakit itu. Ketika mendengar berbagai penolakan itu, Bimanesh beraksi sendiri dengan membuat surat pengantar yang dimaksud meskipun dirinya bukanlah dokter jaga IGD.

Atas siasat tersebut pada akhirnya, Novanto tetap dirawat di rumah sakit itu. Novanto langsung dibawa ke ruang rawat inap VIP tanpa melalui pemeriksaan di IGD.

Dalam kasus ini, Fredrich Yunadi selaku pengacara Novanto saat itu didakwa melakukan perbuatan merintangi proses penyidikan Novanto. Fredrich didakwa bersama-sama dr Bimanesh Sutarjo–yang dituntut dalam berkas terpisah–membuat rekayasa rekam medis Novanto.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here