Beritainternusa.com, Jakarta – Praka Pujiono, anggota Kopassus, mengaku senang bisa membantu pencarian korban longsor di Kampung Maseng, Cijeruk, Bogor. Dia tak mempermasalahkan jika penggunaan tenaga dalamnya disoal.

“Nggak papa, yang penting sudah melakukan aktivitas kegiatan saya, yang menilai bukan saya. Yang penting niat saya bukan untuk mencari ketenaran,” Praka Pujiono, Rabu (7/2/2018).

Pujiono pun mengaku bangga bisa menjalankan perintah atasan untuk membantu proses evakuasi korban longsor. Apalagi dia juga bisa membantu masyarakat yang kehilangan anggota keluarganya dalam peristiwa longsor tersebut.

“Iya secara pribadi sih sangat senang dan merasa beruntung. Kemampuan yang saya miliki bisa membantu masyarakat orang lain yang membutuhkan. Untuk umum saya bisa melaksanakan tugas dari pimpinan saya,” jelasnya.

Berkat jasa Pujiono, tiga jenazah korban longsor yakni Nani (30), dan dua anaknya, Aurel (2) serta Aldi (9), berhasil ditemukan. Pujiono mengaku baru pertama kali terlibat dalam pencarian korban longsor.

“Kalau secara bencana baru kali ini,” katanya.

Dia pun tak mengharapkan hadiah dengan keberhasilannya menemukan para korban longsor. Dengan rendah hati, Pujiono menegaskan murni menjalankan perintah atasan.

“Kalau saya dari tidak terlalu penting, yang penting menjalankan perintah atasan,” ujarnya.

Dia juga menegaskan tenaga dalam yang dimilikinya murni karena tekun latihan dan bakat. Tak ada ritual tertentu untuk menggunakan tenaga dalam ini.

“Untuk ini, kita tidak melakukan ritual atau bacaan. Dari yang saya alami tidak ada melakukan seperti itu mungkin dari bakat seseorang, karena tidak semua bisa mempunyai dan bisa mendapatkan hasil seperti itu,” tegasnya.

Pujiono juga menampik jika tenaga dalam yang dimilikinya membuatnya kebal terhadap benda tajam. Menurutnya, tenaga dalam yang dimilikinya lebih banyak digunakan untuk kesehatan tubuh.

“Nggak (kebal), kita manusia biasa punya takut dan luka. Cuma dengan teknik itu kita bisa menempatkan di mana kita tidak merasakan terlalu sakit,” terangnya.

“Gimana sih cara mukul supaya kita tidak mencederai dengan tidak sakit, karena kan asal kita mukul kan kita bisa cedera. Karena ini kan latihan pernafasan jaga kesehatan dan kebugaran,” imbuh Pujiono.

Dia kemudian menjelaskan dengan teknik mengolah pernafasan dia bisa mendeteksi energi elektromagnetik yang dikeluarkan alam. Dari situlah Pujiono mendeteksi keberadaan para korban.

“Kalau untuk pengambaran itu dari berbagai unsur berbeda-beda yang kita rasakan, antara unsur tanah, obyek sama lingkungan, mempunyai energi elektromagnetik yang berbeda. (Kalau korban) itu kan pasti punya energi yang tersendiri, menggunakan rasa dan feeling,” jelas Pujiono.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here