Jogja.beritainternusa.com, Gunungkidul – Kendati masuk dalam masa paceklik, petani di Desa Melikan, Kecamatan Rongkop, Kabupaten Gunung Kidul melakukan panen raya. Pemerintah setempat sendiri yakin tahun ini hasil padi petani akan surplus seperti tahun sebelumnya.

Kepala Badan SDM Kenterian Pertanian Momon Rusmono mengatakan, bahwa safari panen oleh jajaran Kementan untuk memastikan dan mengabarkan pada masyarakat bahwa pada masa paceklik Nopember-Januari seperti sekarang ini, diberbagai wilayan Indonesia tetap ada panen. “Jadi kami ingin memastikan bahwa stok pangan cukup sehingga kita tidak perlu impor beras,” katanya melalui rilisnya, Rabu (10/1/2018).

Momon menambahkan, petani di Desa Melikan juga berharap pemerintah tidak impor beras karena akan merugikan petani.

Produktivitas padi lokal Segreng yang dipanen di desa Melikan, mencapai 5,12 ton perhektare gabah kering. Lahan pertanian di desa ini seluas 252 hektare dan yang siap panen seluas 20 hektare.

Kepala BPTP Balitbangtan Yogyakarta Joko Pramono menambahkan bahwa Kementan juga mendorong pengembangan varietas unggul lokal spesifik dalam kerangka pelestarian Sumber Daya Genetik. Varietas unggul lokal Segreng punya kelebihan umur genjah, tahan kering dan OPT serta harga lebih tinggi dari beras putih.

Untuk meningkatkan produktivitas BPTP Yogyakarta telah melakukan introduksi varietas Inpari 24 (beras merah) yg potensi hasilnya bisa mencapai 6-7 ton perhektare.

Sementara itu, Wakil Bupati Gunungkidul Immawan Wahyudi mengatakan pada tahun sebelumnya petani surplus beras 105 ribu ton. “Saya yakin tahun ini juga surplus,”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here