Jogja.beritainternusa.com, Kulon Progo – Bupati Kulon Progo, Hasto Wardoyo angkat bicara menyikapi polemik proses pembebasan lahan Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA). Dia membuka komunikasi dengan warga masyarakat yang saat ini masih ada yang menolaknya.

Demikian pula dengan pihak kampus yang mahasiswanya berada di lahan lokasi pembangunan bandara yang berada di Desa Glagah dan Palihan, Kecamatan Temon.

Empat orang aktivis yang diduga mahasiswa yang saat ini diamankan kepolisian diminta dikembalikan ke kampusnya masing-masing.

“Didata dulu, diidentifikasi mereka betul mahasiswa atau bukan. Jika iya, kita minta dikembalikan ke kampusnya kecuali yang melanggar pidana,” kata Hasto melalui pesan singkat kepada wartawan, Selasa (9/1/2018).

Sebagai kepala daerah, Hasto membuka pintu komunikasi dengan warga yang masih menolak proyek Bandara NYIA, di Kecamatan Temon.

“Sebagai pelayan masyarakat, kita proaktif. Sifatnya melayani untuk membantu. Saya siap ketemu warga,” ujar Hasto.

“Kalau belum dikersake kita bersabar, bukan artinya bersabar marah bukan. Tapi proyek bandara tetap jalan terus,” imbuhnya.

Proses pembebasan lahan sebanyak 35 bidang di Desa Palihan dan Glagah yang berlangsung sejak Senin (8/1) kemarin diwarnai kericuhan. Pada hari Senin kemarin tercatat kericuhan terjadi tiga kali dan ada satu warga terluka.

Hari ini, kericuhan kembali terjadi di Dusun Kepek, Desa Glagah. Empat orang aktivis yang menurut polisi diduga menjadi provokator. Polisi masih belum mengetahui identitas mereka dan masih melakukan pemeriksaan di Mapolres Kulon Progo.

Seorang aktivis relawan, Heron, memaparkan kronologi kericuhan tersebut.

“Di lokasi tadi, ada dua lahan yang pro dan kontra. Bersebelahan, kita jaga lahan yang kontra (warga penolak) agar tidak ikut dirobohkan tanamannya,” kata Heron, ditemui di salah satu rumah warga penolak bandara, di Desa Glagah.

Namun, lanjutnya, polisi yang disebutnya memprovokasi warga dan aktivis relawan. Sempat terjadi dorong-dorongan antara warga dan aparat. Salah seorang aparat disebut melakukan gerakan jari tangan yang tidak pantas ke warga. Hal tersebut kemudian mengakibatkan bentrokan antara warga dan aparat.

“Sekitar 11.15 WIB warga mencoba menghalangi alat berat yang mencoba merusak lahan warga yang berstatus hak milik,” jelasnya Heron yang terluka di bagian kepala dan tangannya.

“Sikap aparat semakim represif, mereka kemudian mendorong lalu memukul warga dan relawan. Relawan dijambak, diseret, kepalanya dipojokkan,” imbuhnya.

Berdasar catatan relawan, ada tujuh orang aktivis dan tiga warga yang terluka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here