Musim depan, PSSI berencana kembali menggulirkan Copa Indonesia.

 

Beritainternusa.com, Jakarta – Sempat vakum dalam lima tahun terakhir Copa Indonesia bakal kembali digulirkan tahun depan. Spirit pembinaan dan sejarah turnamen yang menyentuh hingga klub level grass root menjadi salah alasan kuat Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) menggelar kompetisi yang terhenti sejak 2012.

Copa Indonesia tercatat terakhir kali digelar saat klub Persibo Bojonegoro keluar sebagai juara. Setelah itu turnamen yang sudah ada sejak era Galatama ini perlahan menghilang. Seiring perbaikan sistem kompetisi mulai Liga 1 hingga Liga Nusantara, PSSI menyatakan komitmennya untuk kembali menggelar turnamen akbar ini.

“Sisi historis dari Copa Indonesia harus dijaga karena turnamen ini sudah ada sejak dulu. Setiap negara di dunia memiliki FA Cup dan Indonesia adalah negara besar di Asia sehingga kompetisi ini harus kembali digulirkan. Copa Indonesia pasti digelar,” kata Sekjen PSSI Ratu Tisha Destria.

Piala Indonesia sejatinya sudah digelar sejak era Galatama dengan nama Piala Galatama. Turnamen diikuti klub-klub yang bermain pada liga semiprofesional pertama di Indonesia tersebut. Pada 2005 kompetisi serupa kembali digelar dengan mengambil nama Copa Indonesia. Lantaran disponsori pihak swasta, nama turnamen diubah menjadi Copa Dji Sam Soe yang mengacu pada produk unggulan sponsor saat itu PT HM Sampoerna dan PT Bentoel Prima. Total ada 92 tim ikut ambil bagian yakni 36 klub Divisi Utama; Divisi I 40 klub, dan 16 klub Divisi II.

Turnamen Copa Indonesia diselenggarakan menggunakan sistem gugur dengan pola home and away dari babak penyisihan hingga semifinal. Sementara babak final dilangsungkan dalam satu kali dalam pertandingan pamungkas di satu tempat. Sejak format Copa Indonesia, Sriwijaya FC tercatat menjadi tim tersukses dengan tiga gelar juara masing-masing pada 2008, 2009, 2010. Sementara Arema hanya mengoleksi trofi pada dua musim awal turnamen digulirkan.

“Copa Indonesia sangat penting karena turnamen ini menyentuh level hingga klub tingkat akar rumput sampai kasta tertinggi. Semua tim akan berpeluang bertemu dan bisa saling mengalahkan. Jadi, hanya satu kali pertandingan dan yang kalah gugur. Spirit persaingan turnamen ini yang ingin kami jaga,” ujarnya.

Tisha menjelaskan, pelaksanaan Copa Indonesia sengaja ditunda hingga musim kompetisi 2018 lantaran jumlah klub pada setiap kasta kompetisi tidak ideal. Dia mencontohkan Liga 2 yang diikuti 60 tim dari seluruh Tanah Air. Terhitung musim depan klub peserta kasta kedua kompetisi Indonesia ini direduksi menjadi 24 tim dari sebelumnya mencapai 60 klub.

“Kenapa tidak digelar tahun lalu karena jumlah klub di setiap kasta tidak lazim dengan segala peleburan dan sisi historis. Jadi masa transisilah. Sekarang sudah tertata rapi sehingga Copa Indonesia sudah bisa digelar,” ucapnya.

Terkait waktu pelaksanaan, mantan direktur kompetisi PT Liga Indonesia Baru (LIB) ini mengaku jika hal tersebut baru akan dibahas akhir Desember ini, termasuk sisi teknis turnamen. Dia menyatakan, PSSI memiliki kewenangan untuk mendelegasikan program eksternal ke pihak ketiga jika federasi tidak mampu melaksanakan secara mandiri. “Nanti dibahas karena semua harus sesuai planning-nya. Apakah nanti dipegang sendiri atau diserahkan kepada pihak lain. Tapi bisa saja gabungan dengan sponsor. Untuk PSSI, ada sembilan event internasional yang akan digelar dan itu kualitasnya lebih tinggi dari kompetisi nasional,” ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here