Romahurmurziy dan Gubernur jawa Timur Khofifah Indar parawansa

Beritainternusa.com,Jakarta – Direktur Materi dan Debat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Sudirman Said angkat bicara terkait pernyataan Ketum PPP Romahurmuziy yang menyeret nama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dalam kasus dugaan suap pengisian jabatan di lingkungan Kementerian Agama.

Di kasus itu, KPK pun telah menggeledah dan menyita uang di ruang kerja Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin terkait kasus Rohmahurmuziy. Sudirman melihat, lingkungan di sekitar Presiden Joko Widodo buruk. Hal itu terlihat dari banyaknya kasus korupsi yang melibatkan orang-orang di sekitar Jokowi.

“MasyaAllah. Kita prihatin karena kok seperti rontok satu persatu. Ini kita sebut sebagai lingkungan pengendalian di sekitar presiden itu mengalami masalah. Mengalami penurunan luar biasa. terbukti dengan banyaknya kasus ini,” ujar Sudirman di Media Center Prabowo-Sandi, Jalan Srijaya I,Jakarta Selatan, Jumat (22/3).

Menurut Sudirman, maraknya korupsi di lingkungan Jokowi disebabkan ‘sense of control’ yang tak berkerja dengan baik. Akhirnya, pesan positif bertentangan dengan perilaku yang buruk.

“Mereka berbuat begitu karena pesan, perilaku policy tidak nyambung. Akibatnya yang seharusnya menjadi penjaga kepentingan publik malah grogoti kepentingan publik,” ungkapnya.

Sudirman Sais Mantan Menteri ESDM

Dari kasus tersebut, Sudirman yang pernah menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) merasakan pahitnya perjuangan PNS yang telah mati matian mengabdi lama namun tak kunjung naik jabatan. Penyebabnya, karena ada praktik jual beli jabatan.

“Jadi ini praktik yang sangat buruk yang seharusnya bagi kami menjadi pelajaran penting ke depan kita tidak boleh kesalahan itu karena terbukti itu merugikan masyarakat kita,” tandasnya.

Sebelumnya, Mantan Ketua Umum PPP Romahurmuziy alias Rommy menyeret nama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang ikut merekomendasi nama Haris Hasanuddin sebagai Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag Jawa Timur.

Rommy mengaku mendapat rekomendasi dari Khofifah terkait nama Haris Hasanuddin. Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, apa yang dilakukan Rommy adalah hal yang biasa terjadi dalam proses hukum di KPK.

Dalam kasus ini KPK menetapkan mantan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy alias Rommy sebagai tersangka kasus dugaan suap pengisian jabatan di Kementerian Agama (Kemenag). Romahurmuziy diduga menerima suap sebesar Rp 300 juta terkait seleksi jabatan di lingkungan Kemenag tahun 2018-2019.

Selain Romahurmuziy, KPK juga menetapkan dua orang lainnya yakni, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gresik, Muhammad Muafaq Wirahadi (MFQ) dan Kepala Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Jawa Timur, Haris Hasanuddin (HRS). Keduanya diduga menyuap Romi agar mendapatkan jabatan di Kemenag.

KPK menemukan bahwa Rommy tak hanya bermain pada proses jual beli jabatan di Kanwil Kemenag Jawa Timur. KPK mengaku menerima banyak laporan bahwa Rommy bermain di banyak daerah di Tanah Air. KPK pun berjanji akan mendalami hal tersebut.

Dalam memainkan pengisian jabatan di Kemenag, Rommy dibantu pihak internal Kemenag. KPK pun sudah mengantongi nama oknum tersebut. Hanya saja lembaga antirasuah masih menutup rapat siapa oknum tersebut.

KPK juga sudah menggeledah beberapa ruangan di Kemenag. Salah satunya ruangan Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin. KPK menemukan uang Rp 180 juta dan USD 30 ribu saat menggeledah ruang kerja Lukman yang merupakan kader di partai yang dipimpin Rommy yakni PPP.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here