Foto saat puisi Tadarus di Palangka Raya.

 

Beritainternusa.com, Palangka Raya – Berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat) tak hanya dapat dilakukan melalui kegiatan tausiah, tetapi juga lewat kegiatan seni, budaya, dan olahraga. Inilah yang membuat Lembaga Seni Budaya dan Olahraga Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (LSBO PWM) Kalimantan Tengah menggelar acara Tadarus Puisi. Acara yang berangkaian dengan buka puasa bersama ini berlangsung Sabtu, 2 Juni 2018 di aula utama Universitas Muhammadiyah Palangka Raya (UMP), Jalan R.T.A. Milono Km 1,5.

Ketua Panitia Tadarus, Agung Catur Prabowo, S.Hut., M.P., menyatakan bahwa tadarus puisi adalah bagian dari program kerja LSBO PWM Kalteng. Memang acara seperti ini di daerah ini masih tergolong masih jarang digelar, tetapi hari ini bisa diwujudkan, ” tuturnya santai.

Foto saat puisi Tadarus di Palangka Raya.

Nuansa cerah, hijau, santai, dan semarak di aula itu membawa suasana tersendiri. Nuansa puitis religius, tetapi tetap dalam hangat hikmat yang diikat persaudaran membaur. Acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Alquran oleh Adinda Aisyah dan saritilawah oleh Maharani Ananda. Lagu kebangsaan “Indonesia Raya” pun turut menggemakan suasana pembukaan.

“LSBO yang bergerak untuk menggairahkan kegiatan seni sastra selama ini juga sudah melakukan pembinaan di SD Muhammadiyah melalui Sanggar Mentari. Mudah-mudahan kegiatan ini dapat membangkitkan apresiasi keluarga besar Muhammadiyah dan masyarakat luas untuk turut berlomba dalam kebaikan melalui kegiatan kesenian,” tutur salah satu sesepuh Muhammafiyah dalam sepatah kata pembukaan.

Tadarus puisi mengalir begitu saja. Seperti larik-larik yang mengukir tipografi. Lima anak TK Aisyiah mengawali tampil bersama menyuguhkan pembacaan puisi. Pembawa acara,  Ruliyani,  S. Pd., memanggil para undangan bergantian tampil di atas pentas membacakan puisi. Pun ada juga penampilan musikalisasi dan tuturan pantun bertema religius.

Foto saat puisi Tadarus di Palangka Raya.

Uniknya, bukan hanya para pecinta sastra yang turut membacakan puisi. Para tokoh yang selama ini dikenal sebagai ustaz yang biasa tampil untuk berceramah, kali ini tampil untuk membacakan puisi. Salah satunya adalah Ustaz M. Zuhri, S.H.I. Begitu pula rektor Universitas Muhammadiyah, Dr. Bulkani, M.Pd.,  yang biasanya memberikan paparan ilmiah, kali ini tampil untuk membacakan puisi.

Foto saat puisi Tadarus di Palangka Raya.

Maka berturut-turut secara bergiliran tampil para undangan sekaligus perwakilan  komunitas  pecinta dan pegiat sastra dan literasi. Sanggar Terapung bersama Sulistiyo dan kawan-kawan menampilkan musikalisasi puisi. Tjak Basori dari Balai Bahasa Kalteng menampilkan pembacaaan puisi. Ketua Himpunan Sarjana Kesusastraan (HISKI) Kalteng, Dr. Imam Qalyubi membaca puisi karyanya sendiri. Payung Literasi yang diwakili M. Najib membacakan puisi. Ustazah Qonitah Tajudin dari SMPIT Sahabat Alam membacakan puisi. Suhu Suyatno dari Lembaga Seni NU membaca puisi karyanya. Dian Lufia Rahmawati dari Universitas Muhammadiyah membacakan puisi. Lukman Juhara dari SMAN 5 Palangka Raya melalui karyanya melantunkan bait-bait pantun Ramadan. Bahkan, Yulianto Eko Sunugroho dengan panggilan beken Pak Eko Yes yang dikenal sebagai pelukis pun ikut menyemarakkan pentas membaca puisi. Para pecinta sastra yang lain pun tak ketinggalan turut bertadarus puisi mendekati waktu berbuka puasa.

Foto saat puisi Tadarus di Palangka Raya.

Ustaz H.M. Rois Mahfud menutup tadarus puisi dengan memberikan siraman rohani singkat. Menurutnya, seni harus menggiring manusia bukan hanya cinta pada keindahan, tetapi juga semakin berakhlak mulia dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.

“Silakan berkesenian, tetapi jangan melalaikan kewajiban kita sebagai hamba kepada Tuhan. Mencintai seni dan keindahan tidak boleh membangkitkan kesombongan. Sungguh, kesombongan harus kita jauhi karena ia akan menjauhkan kita dari surga. Sekali lagi, mari kita jadikan kesenian sebagai bagian dari upaya nyata untuk berlomba-lomba dalam kebaikan yang akan memberikan kemaslahatan dunia akhirat,” tutur dosen UMP ini.

Akhirnya, berbuka puasa pun tiba. Menikmati menu sederhana terasa menjadi larik-larik puisi tersendiri yang perlu ditulis. Salat magrib berjamaah menjadi kewajiban yang mesti ditunaikan pun berlangsung di Masjid Darul Arqam, Kompleks UMP ini. Semoga dengan tadarus puisi menguatkan kita pula untuk bertadarus kitab suci. Aamiin. Wallahu’alam bissawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here